Ceramah Kematian : Hidup di Gunung Emas

materi ceramah tentang kematianMateri ceramah tentang kematian ini diawali dengan pertanyaan menarik sebagaimana pernah dibahas pada posting tentang contoh pembukaan ceramah yang menarik.

Pembukaan ceramah tentang kematian
Hadirin yang berbahagia… Sepuluh ribu dikurangi tujuh ribu berapa sisanya? [hadirin akan menjawab “tiga ribu….!!!”] Salah! Yang betul adalah tujuh ribu.

Ini Matematika Al Jabbar, yang Maha Kuat (bukan Aljabar). Kalau kita ada uang sepuluh ribu, kemudian tujuh ribu dipakai untuk shadaqah jariyah, maka yang tersimpan utuh sebagai tabungan kita adalah tujuh ribu. Nilai ini bahkan bisa dilipatgandakan. Sedangkan yang tiga ribu rupiah akan hilang begitau saja, atau berakhir di WC.

“Perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah : 261)

Nah, sedekah jariyah itulah salah satu bekal penting kita. Karena pahalanya akan terus mengalir meskipun kita telah meninggal dunia.

Catatan. Selanjutnya, ceramah tentang kematian yang anda sampaikan bisa membahas tentang perbedaan orang mati dan orang hidup

Orang mati hanya bisa menunggu doa dari yang hidup. Karena itu, bagi kita yang masih hidup berdoalah sebanyak-banyaknya. Termasuk mendoakan saudara-saudara kita yang sudah mati.

Orang mati hanya mengandalkan aliran pahala kebaikan yang pernah ia lakukan. Salah satunya adalah dari sedekah jariyah. Sedangkan orang hidup masih dapat berbuat banyak kebaikan.

Tamsil yang dapat anda gunakan dalam ceramah tentang kematian :
Continue reading “Ceramah Kematian : Hidup di Gunung Emas”